Rabu, 13 Februari 2013

Ketika Di Rantau Hujan Emas, Di Kampung Hujan Berlian (part 1)



Siang yang berdebu tak menyurutkan semangat Able buat narik angkot butut nya.
Beginilah nasib seorang perantauan di kota besar. Walau uang yang diperoleh tak seberapa, tapi itu lebih dari cukup dari pada tak berpenghasilan di kampung halaman yang nyaman.

Setahun sudah Able merantau. Kerjaan sebagai sopir angkot di dapat dari rasa persaudaraan sesama perantau sumatera di pulau jawa. Mengingatnya saja Able tak mampu membendung air abadi dari dua bola matanya. Terkapar, kelaparan, tuna wisma menghiasi keseharian di rantau selama beberapa minggu. Gembel mungkin kata yang tepat untuk mewakili kondisi Able saat itu.

****

Payakumbuh,,,
Kota biru nan hijau dengan garis panjang terbentang di atlas. Kota terakhir sebelum kamu melangkahkan kaki menuju negeri melayu lancang kuning, Riau. Kota yang mempunyai nama lain “Kota Biru” yang bersumber entah darimana. Yang jelas kalau dilihat dari langit, itu kota selalu berwarna biru. Sekarang kota biru telah bertranformasi jadi mega-town di sudut timur negeri minangkabau. Yah, benar minangkabau, sebuah ikatan keluarga besar dengan falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang terkenal seantero dunia orang minang. Dari kota ini Able kecil lahir dan tumbuh besar menjadi seorang lelaki yang langsung diperkenalkan dengan kerasnya dunia. Bertempat hidup di lingkungan pasar yang terkenal dengan budayanya yang keras dan siapa kuat dia yang menang. Siapa yang tidak tau pasar?? Tempat orang berjual beli, tempat uang berpindah tangan secara cepat dan kuantitas yang tak sedikit bila di hitung, tempat hukum rimba berlaku dengan teori invisible hand-nya, tempat otot menjadi penguasa dengan jatah keamanan ala pasar. Saya rasa kamu sudah mengerti apa itu pasar yang saya maksud.

Able kecil sudah mulai berlari dengan kaki kecil menelusup ke gang-gang kecil di tengah pasar. Memulai perkenalan dengan istilah nembak, ngutil, tilep, copet, pajak, todong, curi, rampas, pukul, hantam, hajar, palak, dan habis. Perkenalan berlangsung secara manusiawi dan mengalir layaknya air. Tanpa babibu ala guru di sekolahan yang mewajibkan maju ke depan kelas, kemudian sebutkan nama alamat dan tetek bengek lainnya. Learning by doing, itu lah bahasa yang di pahami Able dalam perkenalan nya dengan dunia pasar. Lambat laun Able menjadi jagoan dan orang yang paling ditakuti di sejagad pasar kota kecil ini. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengkebiri semua preman pasar maupun pedagang yang tidak mau membayar uang jaminan keamanan. Pasar adalah surga baginya dalam beberapa tahun ini.

****

Sebatang rokok garpit mulai di hisap Able sembari menunggu lampu lalu lintas yang sedang menyala merah. Jauh nanar tatap mata ketika Able mengingat kehidupan di kampung halaman yang terasa begitu nyaman walau tanpa pekerjaan. Hembusan asap rokok yang mengebul tebal mengisyaratkan betapa dalamnya Able dalam menghisap rokok tadi dan mungkin sembari berpikir jauh ke relung hati. Asap mengebul hampir menutupi seluruh layar kaca mobil.

Teeetttttt!!!!
Sebuah bunyi klakson mobil dengan nada panjang seakan memerintah terdengar dari belakang. Lampu lalu lintas sudah menyala hijau, pertanda untuk segera maju dan melanjutkan perjalanan jalur trayek angkotnya. Segera Able menginjak pedal gas dan mengganti persneling mobil ke gigi maju. Angkot pun bergerak.

Jalanan yang mulai terlihat ramai oleh kendaraan pribadi yang lalu lalang menikmati suasana sore kota. Sesekali terlihat orang yang mengayunkan tangan isyarat untuk menghentikan laju angkot yang dikendarai Able. Penumpang silih berganti naik dan turun dari angkot Able yang butut. Tak terasa penat mengendarai angkot mulai menyambangi tubuh sang supir, meminta untuk beristirahat karena sedari pagi sudah duduk siap di kursi pengendara. Roda kecil yang selalu digenggam pun sudah terasa banjir oleh keringat yang mengucur dari telapak tangan si pengemudi. Begitupun dengan deru mesin mobil yang terdengar kasar, barang sedetik dua menit pun tidak untuk pendinginan mesin dari awal dinyalakan shubuh ini. Mobil dikendarai Able dengan kecepatan sedang menjurus pelan untuk mensiasati kelelahan yang mendera sepasang pencari nafkah di jalanan ini, Able dan mobil angkot butut nya.

****

Sebuah tamparan keras menepak di pipi kiri Able, penguasa pasar tak mampu berkutik kali ini. Bagai singa kehilangan taringnya, hanya bisa mengaum dan membisu tak bisa melawan. Kedua tangan nya kini terikat kuat tak memberi ruang untuk bergerak. Disekap dalam ruangan gelap tak bercahaya matahari. Mungkin ini adalah ruangan bawah tanah dari sebuah gedung. Seorang pemuda tengah menyalakan sepasang lilin memberikan efek remang-remang pada penjuru ruangan.

Entah kebodohan apa yang telah diperbuat Able sebelumnya, apa ini mimpi buruk yang dihadiahkan tuhan. Berkali-kali pukulan dan hantaman mendarat di tubuh lelaki ini. Entah itu di kepala, badan, tangan, kaki, bahkan selangkangan nya pun tak luput dari pukulan dan hantaman tiga orang yang sedari tadi menemani nya. Mereka hanya diam, mengenakan penutup muka dan baju serba hitam, atau mungkin karena pencahayaan yang memang remang-remang di dalam ruangan.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka berbicara dan mulai bertanya pada Able.
Apa yang kamu lakukan?”, tanya pria yang memakai topi.
Aku tak tau, apa maksud mu?”, jawab Able ringkas dan bingung dengan pertanyaan yang di ajukan kepadanya.
Jangan pura-pura, dimana kamu menyembunyikan benda itu? Benda yang kemarin kau ambil dari lelaki dari Bandung”, balas pria bertopi sembari mendaratkan pukulan ke pelipis kiri Able.
Dimana kau sembunyikan barang itu...!!!”, bentak pria berjaket kulit ala koboy amerika.
Lagi-lagi aku tak mengerti apa yang kalian maksud, barang apa yang kalian maks....”, belum sempat Able menjawab, sebuah pukulan kembali mendarat pelak di bibirnya. Darah segar mengalir lembut perlahan menetes di bibir Able, membasahi baju putih yang kini telah berubah menjadi merah merona dalam temaram cahaya lilin.

Pukulan tadi menjadi kereta eksklusif VVIP yang mengantarkan Able masuk lebih dalam ke tempat yang sudah lama tak disinggahinya. Tempat yang dipenuhi cahaya dan lampu-lampu terang benderang berwarna putih. Cukup menyilaukan mata untuk sekedar mengintip ke sekeliling. Tempat yang menghilangkan kata bayangan dalam kamus bahasa dunia. Perlahan-lahan mata Able yang sedari tadi tertutup karena teriknya cahaya, kini mulai terbuka dan beradaptasi untuk mengintip lingkungan sekitar. Saat melirik ke kiri, terbentang sungai yang mengalir jernih menampakkan dasar dengan batu kerikil hitam mengkilat. Di sebelah kanan, berdiri sebuah pohon yang kokoh lagi tinggi dan besar, dengan dedaunan yang rimbun menyembul di setiap ujung-ujung rantingnya. Saat menoleh ke depan, tampak lah sebuah pemandangan sebuah lembah yang sangat cantik dengan lekukan-lekukan perbukitan mengitari nya. Sedangkan saat Able menoleh ke belakang, puncak gunung yang menjulang tinggi seakan merobek selimut langit yang ada di angkasa. Awan-awan yang mengerubungi pun tak sanggup untuk sekedar menyentuh puncak tertinggi dari gunung antah berantah ini. Sebuah tempat yang terpikirkan pun tidak bagi seorang Able.
Berbaring dan tertidur menjadi pilihan tepat untuk menikmati suasana tempat aneh yang kini di diami nya. Hening sebenar-benarnya keheningan, tanpa suara alam air mengalir atau angin yang berhembus di sela-sela dedaunan. Begitu hening tanpa suara, karena yang terdengar saat itu hanyalah suara dari hembusan nafas Able yang di-iringi detak jantung di dada sesekali menyentak keras. Parade musik ritme organ tubuh menjadi pengisi panggung alam aneh yang kini ditempati Able. Sejurus kemudian Able telah terlelap dan tidur di dunia baru...

****

 ~13~
~Ketika Di Rantau Hujan Emas, Di Kampung Hujan Berlian~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar