Senin, 14 November 2011

Pikiran ku di malam hari

Malam kini telah kembali hadir menemani kegelisahan ku yang telah lama berlarut-larut. Sering ku bertanya pada diri sendiri tentang keberadaanku yang sekarang. Pantaskah aku berada disini ?? atau sebuah kesalahan kah aku berada disini saat ini ??. Tak cukup semalam, dua malam, tiga malam, atau pun ratusan malam untuk membantuku menemukan jawabannya. Terkadang disela-sela ku mencari jawaban, tergores rasa kegelisahan yang mendalam. Yang terkadang membuatku berpikir, "AKU BUKAN SIAPA-SIAPA".

Desir angin malam ini sungguh menyejukkan sekujur tubuhku.
Tak iring lamunan rindu jauh menerjang ke lubuk hatiku.
Beku sudah dasar yang telah lama tidak dihangatkan oleh gurauan merdu.
Terdiam tersipu tapi penuh akan rasa malu yang merasuk jiwaku.

Sedikit sajak di atas mungkin cukup menjadi dasar yang mewakili pikiran-pikiran ku yang telah lama bernaung di dalam relung hati dan membran otakku. Sesekali kulihat kebelakang, adakah hal yang bisa membuat ku tetap kokoh dalam alunan dinamika komunitas yang keras ini. Hentak rambat sayup angin menyapa setiap langkah yang telah ku ayun. Tapi tak ada jejak langkah yang akan menjadi penunjuk arah langkah yang ingin dituju.

Memang benar,,,,
Tapak-ku tak seindah telapak ksatria dari bumi tri arga. Pikiran-ku tak sesehat pelaut dari tanah pesisir. Rupa-ku tak seanggun petarung dari bumi nan sago. Hati-ku tak sesuci petualang dari seberang pulau.

Aku,,,,
inilah aku seorang anak dari ranah tak bertuan. Pemberontak dari sudut bumi yang tak bernyawa. Sepi merupakan kerabatku yang tak dapat ku sandingkan kesetiaan-nya dengan makhluk apapun yang ada di bumi. Tanpa ku panggil pun dia mengerti kalau aku tengah membutuhkannya. Sungguh, tapi dialah teman terbaik ku yang tak pernah membuatku kecewa. Pernah ku berpikir bahwa aku seharusnya tidak perlu memiliki rasa, jiwa, dan karsa. Terbesit keinginan untuk menghapuskan semua itu, membuangnya jauh ke dalam lubang hitam yang selalu siap sedia menelan apapun yang berada di depan mulutnya. Tapi ku tahu, aku adalah manusia, manusia yang diciptakan oleh Allah dengan kodrat memiliki perasaan, pengetahuan, pengkaryaan, dan penafsiran. Salah kah bila aku menolak untuk menerima semua kodrat yang di berikan oleh Allah kepada semua umat manusia di dunia ini?? sungguh lancang rasa nya bila aku berpikir begitu. Tapi ini lah aku dengan ketidaksempurnaan yang ku miliki.

Malam ini kembali ku merenung,,,
Apakah kehidupan yang kujalani saat ini merupakan jalan hidup yang harus ku tempuh??. Sepotong sajak tua kembali mengingatkanku,
Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian.
Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Sungguh kata-kata ini selalu tertanam di dalam hatiku di setiap aku merasakan kesulitan yang kadang membuat ku ingin menghujamkan pisau tua berkarat ke dalam pusat pompa nyawa kehidupan ini.

Banyak hal telah membuat ku berpikir,,,, apakah semua ini hanya kepalsuan dan permainan tua yang di mainkan dalam alunan roda tua yang sama sejak ribuan tahun yang lalu?? ataukah ini adalah kepalsuan dan permainan baru yang di upgrade menjadi sebuah cerita yang lebih menegangkan layaknya film-film box office yang menjuarai piala oscar berturut-turut?? sungguh aku tak peduli pada hal-hal semacam itu.

Kembali lagi pada buaian lembut embun malam yang sunyi. Embun yang selalu berbisik tentang kepeduliannya kepadaku, embun yang bersedia menemaniku dikala kesepianku. Menemaniku dikala tak seorang pun mampu membuat ku merasa di kasihi dan di sayangi dengan setulus jiwa. Sekarang kesepian yang sungguh membuatku terbuai dan tidur semakin lelap di dalam nya, tanpa sadarku untuk tak ingin kembali kepada dunia yang nyata. Tapi sepertinya bukan hanya aku yang terbuai oleh nya. Banyak orang telah terbuai oleh fatamorgana yang diciptakan dengan penuh sentuhan seniman yang tidak pernah letih untuk menghasilkan karya-karya luar biasa untuk milyaran manusia yang hidup di bumi ini.

Ahh,,, omongan ku semakin membuyar seiring kenikmatan sepi yang tengah menggerayangi seluruh tubuh ku di malam yang sunyi ini. Sekarang aku ingin mengatakan sesuatu sebelum buaian ini semakin membuat ku lupa akan tujuan ku menulis pada malam ini, yaitu,,,AKU BUKAN SIAPA-SIAPA.

Apabila sebuah pertanyaan sederhana dilayangkan kepadaku saat ini, akankah ku dapat menjawab nya. Pertanyaan itu begitu sederhana, begitu sederhana nya pertanyaan ini hingga jumlah kata yang terdapat di dalamnya hanya ada dua, serta di akhiri dengan sebuah tanda seperti kail yang semakin membuat ku sakit untuk berpikir. SIAPA AKU??

Begitu sederhana kan pertanyaan nya. Kalau kamu bertanya pada pensil, dia akan sangat mudah menjawab dengan jawaban, "Aku Pensil, untuk menuliskan goresan-goresan kecil di lembaran kertas". Begitupun ketika kamu melontarkan pertanyaan yang sama kepada lemari, dia akan menjawab, "Aku lemari, tempat menyimpan pakaian dan sepatu". Tetapi saat pertanyaan yang sama dilontarkan kepadaku, apa jawab ku?? Cukupkah dengan menjawab, "Aku manusia" atau "Aku Artha". Rasanya jawaban yang kuberikan itu tidaklah mewakili siapa aku sebenarnya. Jawabannya adalah jati diriku, jati diri yang tersimpan di sela-sela urat nadi ku, terselip di antara pori-pori kulitku, dan terngiang-ngiang di dalam otak dan hati kecilku yang telah letih mengoceh dan memarahi disetiap tindakanku yang palsu.

Sampai kini aku terus mencari apa jawaban atas pertanyaan itu,,,
Apakah aku sebuah kesalahan dari mahakarya yang ada. Selagi masih belum menemukan jawabannya. aku cuma bisa menjawab, "AKU BUKAN SIAPA-SIAPA". Jawaban yang hanya mampu menenangkan ku sesaat dan kembali habis saat aku bertemu dengan malam yang sunyi lagi esok harinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar