Rabu, 14 Desember 2011

Teman Dan Perjalanan

Teman,,,

Suatu pagi yang cerah dilangit biru. Hari yang indah untuk mengawali hari-hari baru sebagai manusia. Dikala mentari terbit dari sisi timur, menyembul indah membawa cahaya keemasan.

Pagi ini ku berangkat menuju pedalaman yang rindang. Sebelum itu aku ingin bilang, "Teman, mari kita berangkat menuju pedalaman. Dimana tidak ada pembatas yang kan menghalangi langkah kecil tapak kaki ini."

Berangkat dengan membawa bekal mental dan iman kurasa sudah cukup untuk mengawali hari ini.
"Teman, langkah kita mungkin di tengah pedalaman akan berbeda. Mungkin langkahmu lebih besar dariku, atau mungkin langkahku lebih kecil dari langkahmu. Tapi itu bukan masalah karena tujuan akhir kita itu SAMA."

Gerbang pedalaman telah nampak menghadang di depan mata, tak gentar rasa kaki ingin melangkah dan raga ingin menyelaminya. Tak lupa ku untuk membaca sedikit lembaran petunjuk yang terpotong-potong dari awal perjalanan ku mulai dari rumah.

Aku pun mulai melangkahkan kaki pertama menuju pedalaman. Udara sejuk, panas, dingin, sepoi, dan bau khas pedalaman mulai menyapaku seperti memberi sambutan pertama memasuki pedalaman. Sepertinya ini akan menarik pikirku.

"Teman, apakah kau akan terus melangkah seperti diriku??" tanyaku.
aku pun melangkah terus menuju pedalaman, jauh lebih dalam dan lebih dalam lagi. Banyak alunan nada lembut yang sahut menyahut disekitarku. Aku tak peduli apapun itu asalkan tidak mengganggu langkahku. Tak lupa ku untuk terus membaca lembaran petunjuk kecil disetiap ku bertemu persimpangan ataupun disaat ku kehilangan arah.

Tanpa kusadari, sedikit demi sedikit lembaran-lembaran petunjuk semakin mengecil. Robek sedikit demi sedikit yang perlahan namun pasti akan habis dengan sendiri. Apa yang harus kulakukan??? Tolong jangan terus robek lembaran ini, karena aku yakin perjalanan menuju pintu akhir masih jauh. Aku baru menempuh seperempat perjalanan yang harus ku tempuh.

"Teman, apa yang harus kita lakukan?? lembaran petunjuk ku mulai robek sedikit demi sedikit. Apa kau juga punya lembaran petunjuk??", tanyaku. Kemudian aku pun terus meneruskan perjalanan menuju pedalaman. Ku tau nanti pasti lembaran petunjuk ini akan hilang dan lenyap dari genggamanku. Tak apa, aku masih punya Teman. Teman yang bisa menjadi tempat untuk saling memikirkan jalan menuju pintu keluar dari pedalaman ini. Dan sekarang potongan lembaran petunjuk terakhir telah robek dan hancur menjadi debu tak berbekas.

"Teman, sekarang aku tak punya lembaran petunjuk lagi. Lembaran petunjuk ku telah musnah tak bersisa. Kemana kita akan melangkah Teman?? Di depan telah menanti sebuah persimpangan yang kalau kita salah memilih jalan, akan membuat kita sulit untuk keluar dari pedalaman ini Teman."

Akupun melangkah menuju persimpangan. Langkah ku seakan tertahan, kaki ku terasa berat disaat akan memilih jalur yang ada di hadapanku. Aku bingung, kenapa dengan kakiku?? sulit rasanya untuk melihat kaki yang tak mampu melangkah ini. Sontak ku berpaling ke arah samping untuk bertanya pada Teman ku. Dan kali ini aku pun dibuat terkejut dengan penglihatanku. Teman yang kupikir ada disampingku ternyata telah mengambil langkah menuju jalur yang berbeda dari jalurku. Kenapa??

"Teman, kenapa kau memilih jalur itu??", teriak ku yang melihat temanku telah melangkah semakin jauh dariku.
Teman, aku tau aku membutuhkanmu untuk mampu menemukan pintu keluar pedalaman ini. Tapi aku juga tidak akan memaksamu untuk tetap berjalan bersamaku. Teman, mungkin aku tidak mengerti akan ilmu navigasi. Mana arah utara, arah selatan, arah barat, dan arah timur pun aku tidak tau di tengah pedalaman ini. Aku tau aku mungkin akan tersesat di tengah pedalaman ini, tapi itu telah menjadi pilihanku. Pilihan yang sudah aku ambil disaat aku menyadari bahwa lambat laun lembaran petunjuk ku pasti akan lenyap di tengah perjalanan nanti. Pilihan yang sudah aku ambil disaat aku yakin kelak saat lembaran petunjuk ku lenyap, aku yakin masih memiliki teman seperjalanan yang bisa berbagi dan memikirkan mana jalan terbaik.


Sekarang kau telah memilih jalanmu sendiri Teman, dan aku pun akan segera meneruskan perjalanan menempuh jalur dihadapanku. Seperti kata ku, aku tidak akan menahanmu, apalagi untuk memaksamu tetap bersamaku di jalur yang sama. Selamat jalan teman, semoga kita bisa bersama bertemu di pintu keluar nanti. Lambat launn sosok Teman ku hilang di balik selimut kabut dan rindangnya pepohonan.

Sekarang aku berjalan sendirian menempuh jalur yang ada di hadapanku. Riuh rendah mengalun suara dan bisikan di kiri-kanan ku. Tapi aku tak boleh berhenti, karena jika aku berhenti aku tak akan bisa sampai bersamaan di pintu keluar pedalaman dengan Teman ku. Dia pasti sedang melangkah dengan tegap menyusuri jalurnya, pikirku. Aku tidak boleh lemah, aku tidak boleh lalai dan bermalas-malasan. Semakin ku percepat ayunan langkah ku di setiap pijakannya. Tunggu aku Teman, kita pasti bertemu di pintu keluar.

Sejenak aku beristirahat di sebuah pohon, pohon yang sungguh nyaman untuk tubuh kecilku yang tengah kelelahan seharian menyusuri jalan setapak kecil di tengah pedalaman ini. Pohon ini begitu indah, banyak bunga berbagai warna terkembang dan mekar di sudut-sudut rantingnya. Indah nian saat di pandang mata yang telah sayu ini. Buah-buah segar yang sudah matang juga terselip di antara rimbun nya dedaunan pohon yang rindang ini. Begitu segar dan menggoda untuk kerongkongan yang kering serta perutku yang telah kelaparan sedari tadi. Tangan ku mendadak langsung melayang tanpa kuperintahkan menuju salah satu buah yang sudah matang. Cukuplah untuk mengganjal perutku yang lapar ini. Sekarang perutku sudah kenyang, saatnya kembali melanjutkan perjalanan menuju pintu keluar. Dan aku tak lupa untuk memetik beberapa buah sebagai bekal perjalananku nanti.

Sekarang perjalananku di isi oleh guratan-guratan duri yang tajam. Jalan yang tadinya rimbun oleh dedaunan telah berubah menjadi ladang kaktus berduri. Seringkali mata kecilnya menyayat kulit lemah yang tak berpelindung ini. Perih, itu lah kata yang cocok untuk mengungkapkan rasa luka goresan yang timbul akibat sayatan duri-duri kecil itu. Tak hanya duri, suara-suara gemuruh sekarang juga mulai terdengar membentak dari arah yang tidak aku tau. Suara yang begitu memekak kan telinga ku sehingga membuatku tertunduk dan berhenti melangkah untuk membiasakan diri dengan suara-suara itu. Sayangnya aku berhenti di tempat yang salah, hidungku mulai mencium bau yang tidak sedap. Ya, ini adalah bau bangkai. Bangkai makhluk hidup yang sudah membusuk dipenuhi belatung dan berbagai microba lainnya. Seakan belum lengkap, sekarang di hadapanku telah berdiri seorang petarung dengan pedang dan perisai nya siap untuk memenggal kepalaku. Tapi semua itu tak cukup untuk menghentikan laju langkahku menuju pintu keluar dan kembali bertemu dengan Teman yang kini berada di sisi lain pada wilayah pedalaman ini.

Lekas aku bangkit dan berdiri untuk melangkah melanjutkan perjalananku. Aku akan menghadapi petarung ini, kemudian melanjutkan perjalanan menuju pintu keluar. Gumam ku dalam pikiran. Tapi aku akan melawan pakai apa?? petarung ini memiliki pedang dan perisai di kedua tangannya. Sedangkan aku, cuma tangan hampa tanpa ada satupun senjata yang tergantung di setiap bagian tubuhku. Reflek aku mematahkan sebuag dahan pohon yang berduri di sekitarku. Walaupun memegangnya saja sudah melukai tanganku, tapi minimal aku telah memiliki senjata untuk mengimbangi sabetan pedang petarung. Kini aku siap untuk bertarung.

Bodoh,,,
Itulah kata pertama yang ku pikirkan saat mengetahui petarung itu cuma sebuah patung. Patung tak bernyawa yang cuma bisa diam dan membisu. Kenapa aku harus melawan nya?? kenapa aku harus melukai diriku sendiri dengan mematahkan dahan pohon berduri untuk melawan makhluk tidak bernyawa ini. Sekarang yang kudapat hanya sobekan besar di telapak tangan ku dan darah yang mengucur lembut perlahan namun pasti menetes dengan interval tetap di ujung-ujung jari ku.

Begitu indah,,,
Pesona tetesan darah yang kulihat mengalir dan jatuh dari telapak tanganku menuju tanah. Seperti sebuah gambar lukisan yang biasa di pajang pada galery-galery pameran lukisan dan photografi. Jika di ibaratkan tangan dengan darah yang menetes ini sebagai objek lukisan, maka genangan darah di bawahnya jadi pelengkap untuk menyempurnakan pesona hidup dari lukisan itu. Di tambah dengan siluet-siluet hitam yang menghiasi setiap sudut dan sisi dari lukisan. Begitu sempurna, mungkin bisa menjadi sebuah lukisan termahal menyamai lukisan karya agung seniman prancis Leonardo Da Vinci dengan judul "Mona Lisa".

Sekarang semua pandanganku telah hitam legam. Darah yang mengalir dari telapak tanganku sudah begitu banyak yang membuatku kehilangan kesadaran. Selamat tinggal Teman, sepertinya aku tidak akan bisa menemuimu di pintu keluar pedalaman. Semoga kau sampai di pintu keluar dan menjalani hidup yang baru. Sedangkan aku, aku sepertinya tidak akan pernah bertemu pintu keluar. Tetap di dalam pedalaman sini bersama tubuh yang akan segera kehilangan nyawa nya. Maaf atas segala kesalahanku kepadamu Teman, karena aku juga manusia biasa yang punya rasa, emosi, khilaf, dan sifat humanis lainnya.

Sekarang sempurna sudah kegelapan menutupi pandangan mataku ini,,, Terima kasih. Bisikku sebelum aku kehilangan kesadaran seutuhnya.


Marta Muhammad Thohir, 15 Desember 2011, 01.30 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar